Menjaga Warisan Leluhur: Catatan Sejarah, Folklor, dan Perjalanan Masyarakat Adat Borobudur

martotokomakam

Asal-Usul Masyarakat Adat dan Penjaga Candi Borobudur

Masyarakat asli kawasan Borobudur menyimpan kisah turun-temurun yang hidup subur dalam tradisi lisan, folklor, dan ingatan kolektif warga setempat. Secara historis dan budaya, penduduk asli di sekitar candi tidak mengenal tradisi penganut agama Buddha ataupun sisa-sisa linguistik dari koloni India kuno. Sebagian besar warga merupakan penganut Islam yang hidup berdampingan dengan nilai-nilai toleransi dan kearifan lokal yang sangat kuat.

Hubungan batin antara warga dengan candi terwujud secara nyata dalam bentuk penjagaan kawasan, pelestarian situs, serta warisan budaya leluhur yang dirawat dari generasi ke generasi.

Figur Sentral: Kyai Mpereng Mbuduran (Raden Pandji Martotoko)

Dalam catatan folklor setempat, figur utama yang dihormati dalam sejarah pelestarian dan penyebaran nilai-nilai Islam di kawasan ini adalah Raden Pandji Martotoko, atau yang lebih akrab disapa masyarakat sebagai Kyai Mpereng Mbuduran.

Beliau merupakan tokoh pelanjut penjaga kawasan (jogoboyo) yang bertempat tinggal di lereng (mpereng) Candi Borobudur, tepatnya di wilayah Ngaran Krajan. Persemayaman beliau terletak di Punthuk Jaten, sebuah bukit kecil di sebelah tenggara candi yang dikelilingi oleh pepohonan jati tua. Hingga hari ini, kisah hidup beliau menjadi bagian penting dari warisan pengetahuan lokal yang merekam dinamika sosial masyarakat Borobudur masa lampau.

Pesan Persatuan Melalui Pupuh Tradisional

Kearifan lokal masyarakat adat Borobudur diabadikan melalui pupuh atau tembang warisan leluhur yang kerap dilantunkan dalam kesenian rakyat:

Brojonolo Sun Tingali

Anak Mbarep Ing Mbekangan

Ojo Owah Ing Ngarane

Ngaran Ndhuwur Pademangan

Kinoyo Bogo Gending Anganti-Anti

Sinden Sigug Ayu-Ayu Sapi Putih Brongsongono

Pupuh ini berfungsi sebagai pesan penyatuan wilayah yang diwakili oleh nama-nama dusun sekitar Borobudur—seperti Brojonalan, Kenayan, Ngaran, dan Brongsongan—untuk menjaga keamanan, kerukunan, serta keharmonisan kawasan. Melalui tradisi tutur ini, masyarakat secara simbolik merawat ikatan kekeluargaan dan tanggung jawab moral terhadap kelestarian lingkungan candi serta warisan budaya di tanah leluhur mereka.

Garis Waktu Perjalanan Sejarah Borobudur dan Peran Masyarakat Lokal

Perjalanan sejarah kawasan Borobudur mencatat serangkaian peristiwa penting, mulai dari era kolonial hingga masa modern, yang melibatkan peranan aktif masyarakat lokal:

  • Abad ke-18 (Menjelang Perang Jawa): Dusun Ngaran Krajan yang menjadi pusat kediaman keluarga jogoboyo (keturunan Kyai Mpereng Mbuduran) bergerak secara rahasia dan senyap membantu persiapan logistik serta konsolidasi pejuang jauh sebelum meletusnya perang terbuka.
  • Tahun 1813: Keberadaan Candi Borobudur mulai “dibocorkan” kepada pihak luar, termasuk Thomas Stamford Raffles, melalui perantaraan tokoh lokal seperti Tumenggung Secodiningrat (Tan Jing Sing).
  • Tahun 1825–1830 (Perang Jawa / Perang Diponegoro): Keturunan Kyai Mpereng Mbuduran dan para tokoh lokal ambil bagian sebagai panglima, laskar, dan pendukung perlawanan di bawah komando Pangeran Diponegoro. Selepas perang (1830), para pejuang memilih “surut ke akar rumput” dengan memperkuat tradisi lisan, pendidikan Islam, dan penjagaan situs leluhur.
  • Tahun 1907–1911: Pemugaran besar-besaran pertama dipimpin oleh Theodoor van Erp, yang kemudian menetapkan narasi resmi candi sebagai peninggalan Dinasti Syailendra.
  • Tahun 1925: Masuknya berbagai pengaruh budaya dan spiritual luar ke kawasan candi, yang kemudian membuka jalan bagi tradisi ritual dan meditasi
  • Era Pascakemerdekaan hingga 1970-an: Masyarakat secara simbolik menyalakan lampu penerangan (ting) di pos-pos penjagaan (gardu) kolonial di dusun-dusun penyangga (Brojonalan, Kenayan, Ngaran, Brongsongan) yang di Koordinasikan oleh para jogoboyo (seperti Simbah Wirotijo, Simbah Domo, dan Mbah Kasdo). Kompleks candi dan Bukit Dagi juga sempat menjadi titik strategis pelatihan pertahanan oleh Laskar Hizbullah dan Tentara Republik Indonesia hingga awal dekade 1980-an.
  • Tahun 1975: Pemindahan Makam Punthuk Jaten, tempat bersemayamnya para leluhur penjaga awal kawasan.
  • Tahun 1983: Penghapusan resmi nomenklatur jogoboyo dan juru kunci tradisional (Bewaker van de Borobudur) serta pembongkaran pendopo lama yang selama ini menjadi pusat koordinasi masyarakat adat, seiring berdirinya Taman Wisata Candi Borobudur.

Merawat Tradisi di Tengah Perubahan

Meskipun lanskap fisik dan administratif kawasan berganti seiring berjalannya waktu, masyarakat adat terus merawat ingatan kolektif melalui tradisi lisan dan warisan budaya. Di masa lalu, keluarga jogoboyo memiliki tradisi membuat keris bambu berlapis arang dan kapur putih saat lahirnya seorang anak laki-laki sebagai lambang estafet penjaga keamanan desa (jogosatru).

Hingga hari ini, tradisi Merti Desa atau Pengetan Ambal Warso Siti Perdikan Sri Kahulunan yang rutin digelar setiap bulan Safar (Saparan) menjadi bukti otentik bahwa masyarakat lokal tidak pernah terputus dari akar sejarahnya. Pandangan hidup warga menempatkan situs purbakala ini sebagai warisan peradaban luhur yang memuat nilai-nilai universal tentang kebijaksanaan manusia, kedamaian, dan keterhubungan batin yang erat antara warga dengan tanah leluhur mereka.

Scroll to Top