
Borobudur, 14 September 2026 — Lembaga Adat Borobudur (LAD) menghadiri undangan doa bersama dalam rangka dimulainya pekerjaan Studi Kelayakan dan Studi Teknis Konsolidasi Yasti Candi Borobudur. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Museum dan Cagar Budaya tersebut berlangsung di Pelataran Pos Kenari Candi Borobudur, Senin (14/9/2026), mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Doa bersama ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus permohonan kelancaran dan keselamatan selama pelaksanaan pekerjaan konsolidasi Yasti Candi Borobudur. Acara dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat, termasuk Lembaga Adat Borobudur.
Penjelasan Mengenai Konsolidasi dan Pengalaman Pemugaran Masa Lalu
Dalam kesempatan tersebut, penanggung jawab kegiatan dari MCB Pusat, Albertus Nikko Suko Dwiyanto, menyampaikan penjelasan mengenai persoalan teknis yang berkaitan dengan pemugaran masa lalu. Menurut penjelasannya, penggunaan semen pada pemugaran terdahulu dapat berkaitan dengan munculnya gejala penggaraman pada dinding-dinding batu. Persoalan serupa juga ditemukan dalam pembahasan pemugaran candi-candi lainnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pertimbangan teknis pelaksanaan konsolidasi Yasti Candi Borobudur pada masa kini. Kegiatan ini juga melibatkan Bapak Ismijono, tokoh senior yang memiliki pengalaman dalam pemugaran Candi Borobudur pada masa lalu, sebagai bagian dari upaya menghimpun pengetahuan dan pengalaman pemugaran.
Rencana Pekerjaan dan Pengaturan Pengunjung
Pekerjaan konsolidasi stupa direncanakan berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut, pihak PT Taman Wisata Borobudur (PT TWB) juga diminta melakukan pengaturan pengunjung serta berbagai kebutuhan teknis dan operasional lainnya agar kegiatan konservasi dapat berjalan dengan baik.
Doa Bersama Lintas Tokoh Agama
Rangkaian doa bersama melibatkan tokoh agama dari masyarakat Borobudur, antara lain Bapak Muhammad Ikhwan dari Brayat Alfallah, Dusun Kelon, Desa Borobudur, serta perwakilan Bante dari tokoh agama Buddha. Kehadiran para tokoh agama mencerminkan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap upaya pelestarian warisan budaya Candi Borobudur.
Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah sebagai ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi, dan memperkuat kerja sama antarpihak dalam mendukung pelestarian Candi Borobudur.
Bagi Lembaga Adat Borobudur, kehadiran dalam kegiatan ini merupakan bagian dari kepedulian masyarakat adat terhadap keberlanjutan pelestarian warisan budaya, sekaligus upaya menjaga hubungan baik antara masyarakat, pengelola, dan para pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelestarian Candi Borobudur.
