
BOROBUDUR – Kawasan Candi Borobudur kembali menjadi pusat perhatian dunia budaya dan spiritual melalui penyelenggaraan Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet. Prosesi sakral yang menandai pemindahan Arca Unfinished Buddha
Acara agung ini terselenggara berkat kerja sama erat antara masyarakat setempat yang tergabung dalam Lembaga Adat Desa (LAD) Borobudur dengan Kementerian Kebudayaan. Pemindahan arca legendaris—yang sebelumnya tersimpan di dalam Museum Karmawibhangga—merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kebudayaan serta memberikan ruang spiritual terbuka menjelang perayaan Hari Suci Waisak 2026.
Atmosfer sakral terasa sangat kuat di sepanjang jalannya prosesi. LAD Borobudur bersama para pelaku budaya memberikan penghormatan tertinggi melalui pagelaran Wayang Ruwat yang dipimpin oleh Ki Dalang Darmo Widjoyo, diiringi lantunan doa bersama tokoh agama serta para biksu setempat.
Dalam kesempatannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap pengurus LAD Borobudur dan masyarakat yang terus konsisten menjaga keberlangsungan ritual adat tersebut.
“Dengan adanya tradisi ini, kita menyaksikan sebuah spiritual journey yang bertujuan untuk mencari keberkahan, kebaikan, serta menjadi pelengkap bagi penyempurnaan warisan kebudayaan yang kita miliki. Kami berharap penempatan baru di Lapangan Kenari ini membuat nilai spiritualnya kian hidup dan lebih mudah diakses oleh para peziarah maupun wisatawan,” ujar Fadli Zon.
Melalui momentum bersejarah ini, LAD Borobudur menegaskan kembali komitmennya bahwa adat dan tradisi di bumi Borobudur bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cara hidup yang terus tumbuh, menyatukan hubungan manusia, alam, serta ruang spiritualitasnya
